Oleh: M Arief Soendjoto
Dosen Unlam
(Refleksi Kongres Sungai I di Banjarnegara, 26-28 Agustus 2015)
Banjarnegara, Tribunnews.com - Sungai merupakan bagian dari sejarah peradaban dan kebudayaan Indonesia (Nusantara). Kerajaan Sriwijaya (abad 7 - 11 M), salah satu kerajaan besar berkembang di Palembang, yang mengandalkan sungai. Palembang adalah wilayah di Sumatera yang letaknya di pedalaman. Pada waktu itu prasarana utama untuk mencapai wilayah ini adalah Sungai Musi.
Kemudian, berdasarkan peninggalannya (artefak), Kerajaan Majapahit (abad 13-15 M) berdiri di Trowulan (Mojokerto) pun demikian. Daerah ini di pedalaman Jawa dan berjarak sekitar 60 km dari Surabaya. Untuk mencapai Trowulan dari Surabaya yang terletak di pantai harus melalui Sungai Brantas, sungai besar di Jawa Timur yang berhulu di pegunungan dan sebagiannya masuk wilayah Kota atau Kabupaten Malang.
Sebelumnya (abad 13 M) di wilayah Malang berdiri Kerajaan Singasari. Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok setelah mengudeta Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes, istri Tunggul Ametung.
Jauh sebelum itu, di Jawa Barat terdapat Kerajaan Tarumanagara (abad 4 - 7 M). Kerajaan ini meninggalkan percandian di muara Sungai Citarum. Kehadiran kerajaan juga terungkap dari beberapa prasasti kuno pada batu yang ditemukan di tiga sungai, Cisadane, Ciaruteun, dan Cianten. Salah satu prasasti ditemukan di Batutulis, desa/kelurahan di Kota Bogor yang terletak tidak jauh dari aliran Cisadane, sungai yang berhulu di Gunung Salak dan bermuara di Tangerang.
Beberapa ratus meter ke barat dari tempat ditemukannya prasasti ini terdapat Istana Batutulis yang pembangunannya digagas oleh Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan RI. Sekitar lima kilometer ke timurlaut terdapat Istana Bogor.
Istana Bogor terletak berdampingan dengan Kebun Raya Bogor yang dibangun sekitar 1840. Konon, sekitar abad 14-15 kebun raya ini merupakan taman atau hutan buatan dari Kerajaan Sunda yang salah satu rajanya terkenal adalah Prabu Siliwangi. Kebun Raya ini dibelah oleh Ciliwung, sungai yang selalu merepotkan para gubernur DKI Jakarta Raya saat banjir datang.
Di Jawa Barat, ci adalah suku kata yang berkembang dari kata cai. Arti dari kata dalam kosakata Bahasa Sunda ini adalah air. Kerajaan-kerajaan yang didirikan beriringan atau setelah kerajaan besar seperti tersebut di atas pun berkaitan dengan sungai. Kerajaan Siak Seri Inderapura berkembang di tepian Sungai Siak, Riau. Kerajaan Banjar berkembang di tepian Sungai Kuin.
Sebetulnya tidak hanya di Indonesia, kerajaan-kerajaan di banyak bagian dunia juga terikat dengan sungai. Kerajaan Mesir kuno yang diperintah oleh Firaun berkembang di tepi Sungai Nil. Kerajaan Inggris berkembang di tepi Sungai Thames. Kerajaan Turki tidak bisa dipisahkan dari Sungai Eufrat serta kerajaan-kerajaan di daratan Eropa dari Sungai Danube.
Pemanfaatan sungai pada era kerajaan Nusantara atau kerajaan di dunia menunjukkan bahwa perannya begitu dominan. Sungai adalah prasarana utama yang digunakan untuk berpencar, baik dalam kerangka memenuhi kebutuhan hidup, mencari nafkah (berdagang), berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, maupun mengembangkan populasi (masyarakat).
Pada saat itu daratan pun masih berupa hutan. Jalan darat tidak berkembang. Banyak orang yang tidak berani menebang hutan sembarangan, karena hutan adalah kehidupan. Dari hutan diperoleh makanan dengan mudah. Di hutan pula terdapat berbagai makhluk.
Pengembangan jalan darat adalah pemusnahan kehidupan di hutan dan pengeluaran biaya. Biaya dalam hal ini bukan sekadar jumlah nominal uang yang dikeluarkan untuk membangun, tetapi beban yang harus ditanggung karena kualat atau gangguan penghuni hutan.
Hal ini tentu berbeda dengan sungai. Sungai sudah tersedia di alam dan orang tinggal memanfaatkannya. Tidak perlu banyak biaya dikeluarkan, seperti halnya ketika membangun prasarana jalan darat.
Apakah sekadar itu peran atau makna sungai? Tentus ajat idak.
Sungai tidak sekadar sebagai sumber air dan penghubung antara lokasi di bagian hulu dan lokasi lain di bagian hilir atau sebaliknya. Sungai adalah halaman muka. Di sungai, kerajaan mengamati orang yang berlalu lalang atau para tamu yang berkunjung kekerajaan. Dengan kalimat lain, sungai dilindungi, dijaga, dan dipelihara.
Bagaimana kondisinya pada saat ini? Kondisi sungai tentu sudah jauh berbeda. Sungai tidak lagi dianggap sebagai halaman muka. Sungai adalah halaman belakang dan jalan darat adalah halaman muka.
Perubahan anggapan tidak akan menimbulkan masalah atau tidak berdampak negatif, apabila sungai tidak diperlakukan semena-mena. Yang terjadi pada saat ini, justru sangat parah dan menyedihkan.
Sungai seperti lahan kaplingan dan bukan lagi milik bersama (publik) yang harus dijaga dan dilestarikan. Pemilik kapling bisa memanfaatkan kaplingan sesuai dengan keinginannya. Pemilik kapling boleh membangun rumah. Di sungai pula pemilik kapling boleh membuang sampah atau limbah. Tak peduli apakah sampahnya sampah organik atau bukan, limbahnya limbah cair atau bukan, kotoran dan bahkan bangkai sekalipun bisa dibuang ke sungai.
Hanya ada dua pilihan bagi publik. Pilihan pertama, ikut memanfaatkan sungai seperti yang dilakukan pemilik kaplingan. Pilihan kedua, menonton saja dan dilarang berkomentar.
Baik itu perlakuan pemilik kaplingan maupun pilihan bagi publik tentu tidak ada yang benar. Disadari atau tidak, semua orang sangat memerlukan sungai. Sungai menjadi sumber bahan baku air bersih atau air minum.
Tanpa menghitung besaran rupiahnya, kita tentu dapat membayangkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengolah air sungai tercemarakan lebih besar daripada mengolah air tak-tercemar. Langkah awal untuk mengolah air tercemar adalah mengurangi atau menghilangkanbahan pencemarnya. Langkah ini tidak perlu dilakukan terhadap air tak-tercemar.
Semua orang tentu sangat berharap sungai dalam kondisi bersih. Sungai bukanlah tong sampah. Ketika sungai menjadi tong sampah, biaya yang harus kita keluarkan untuk mendapat air bersih atau air minum semakin besar. Bandingkan saja dengan besar biaya yang harus kita keluarkan, ketika membeli air kemasan.
Selamat atas terbentuknya Forum Peduli Sungai di Banjarmasin pada 22 Agustus 2015. Selamat pula kepada para peserta se-Indonesia yang pada 26-30 Agustus 2015 ini mengikuti Konggres Sungai I di Banjarnegara, Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dikabarkan lahir di kota ini berperan besar atas penyelenggaraan acara tersebut. (*)
___________
Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Sungai dan Peradaban Nusantara Masa Lalu, http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/08/26/sungai-dan-peradaban-nusantara-masa-lalu?page=all
Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Sungai dan Peradaban Nusantara Masa Lalu, http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/08/26/sungai-dan-peradaban-nusantara-masa-lalu?page=all
Editor: BPost Online
0 Komentar